PADA akhirnya, setelah memperoleh a Royal Pardon dari Raja, Anwar Ibrahim bebas dari penjara lebih cepat dari jadwal semula. Ini memperkuat pandangan bahwa Mahathir, PM terpilih,  serius melakukan reformasi dan memenuhi kesepakatan-kesepakatan politik antara Mahathir dan Anwar. Di antara kesepakatan di kalangan kekuatan aliansi oposisi jika oposisi memenangkan pemilu ialah (1) Mahathir yang akan menjadi PM dan istri Anwar sebagai wakil PM. Mengapa bukan Anwar yang disepakati sebagai PM? Karena Anwar masih dipenjara. Undang-undang tidak membolehkan (2) Setelah Anwar bebas dan memperoleh Royal Pardon atau Grasi dari raja, maka kursi PM diserahkan ke Anwar. Pertanyaannya ialah  jalan seperi apa yang harus ditempuh untuk memuluskan Anwar menuju kursi PM? Apakah Mahathir tidak akan mengkhianati janji politiknya?

Sistem Politik

Sistem politik di Malaysia adalah demokrasi parlementer. Karena itu, partai pemenang pemilu di parlemenlah  yang akan memperoleh peluang menduduki jabatan Perdana Menteri (PM). Partai itu jugalah yang akan menetapkan kepada siapa jabatan PM diberikan. Sepanjang sejarahnya, partai pemenang di parlemen adalah UMNO berkoalisi dengan sejumlah partai lainnya antara lain ialah MIC (partai etnis India) dan MCA (partai etnis Cina). Karena itu yang menentukan kabinet termasuk PM adalah partai pemenang.

Jadi, UMNO-lah yang menjadi the ruling party dan jabatan PM pastilah dari UMNO yaitu presiden UMNO karena partai ini selalu menang, tak pernah terkalahkan. Oposisi tak pernah memenangkan pemilu terkecuali PAS (partai Islam) yang menguasai wilayah Kelantan, misalnya. Banyak penjelasan mengapa UMNO dan BNnya yang selalu menang. Antara lain ialah pemanfaatan mesin birokrasi dan sumber keuangan negara, kontrol ketat terhadap media, penerapan a draconian law untuk melemahkan kekuatan civil society dan mendatangkan ghost voters di hampir setiap pemilu. Ini sudah menjadi memory kolektif di Malaysia.

Kekuasaan 22 tahun Mahathir di UMNO maupun di pemerintahan menggambarkan secara sangat gamblang bagaimana politik Malaysia benar-benar dikontrol secara ketat penuh perhitungan supaya UMNO dan tentu Mahathir tetap berkuasa di Malaysia. Hal yang sama juga dilakukan oleh pelanjut Mahathir, yaitu Abdullah Badawi dan Najib Razak meskipun ternyata gagal mengikuti reputasi Mahathir. Meskipun UMNO tetap menjadi the ruling party, tapi sudah mengalami degradasi politik yang tak terbantahkan sampai kemudian secara sempurna mengalami keruntuhan yang dramatis pada Pemilu kemarin. Mahathir menjadi salah seorang tokoh penentu keruntuhan ini. Bagaimana perjalanan politik Anwar?

Political Infuse

Bermula memimpin Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM) sejak berdirinya awal tahun 1970 hingga awal 1980, Anwar tampil sebagai seorang tokoh/pemimpin muda yang kritis dan outspoken. Kebangkitan Islam di Malaysia yang skala pengaruhnya cukup besar tahun 1970 an antara lain ditandai dengan gerakan ABIM dan pemikiran-pemikiran tajam Anwar tentang Islam dan kaitannya dengan berbagai isu strategis. Salah satu buku fenomenalnya adalah The Asia Renaissance. Komitmennya terhadap demokrasi, kemajemukan, HAM, keadilan menghiasi pidato-pidato dan tulisan-tulisannya.

Kritik-kritiknya yang sangat tajam terhadap pemerintah Malaysia sepanjang tahun 1970-an menujukkan hasratnya yang kuat dan tuntutannya yang besar agar sistim hukum dibangun untuk keadilan dan kesejahteraan umum dan demokrasi benar-benar ditegakkan. Kepiawaiannya memimpin, pemikiran-pemikirannya yang tajam dan pandangan keislamannya yang Wasaty telah menempatkan Anwar sebagai seorang tokoh yang memiliki jaringan internasional yang luas. Apa yang dilakukan Anwar selama memimpin ABIM mendorong partai oposisi Islam  (PAS) untuk memberikan tempat kepada tokoh-tokoh muda ABIM di jajaran partai. Tak sedikit memang kemudian tokoh dan aktivis ABIM yang menyalurkan aspirasi politiknya ke PAS mengoposisi UMNO.

Political infuse ABIM terhadap PAS ini tentu memperkuat konfidensi bahwa PAS akan menjadi partai Islam besar dan berpengaruh secara nasional. Akan tetapi, Anwar mengambil jalan berbeda karena dia justru bergabung ke UMNO atas ajakan Mahathir, sebuah langkah yang sangat kontroversial dan tentu mengecewakan keluarga besar ABIM. Akan tetapi tidak  sedikit juga aktivis ABIM yang kemudian mengikuti jejak politik Anwar. Dia tidak memilih PAS antara lain karena tidak bersetuju dan bahkan menentang ide negara Islam sebagaimana yang selama ini diperjuangkan oleh PAS. Dalam kerangka strategi politik, political infuse itu tentu sangat penting untuk menebarkan atau menyalurkan aspirasi politik melalui partai apapun. Semula infuse memang dimaksudkan agar PAS yang mengalami kesulitan menghadapi UMNO memperoleh amunisi dan enerji besar.

Akan tetapi, kemudian distribusi kader-kader ABIM di PAS dan UMNO haruslah juga dibaca sebagai upaya sadar agar para kader militan ABIM ini bisa mempengaruhi kebijakan-kebijakan partai manapun dan pemerintah. Keberadaan Anwar di UMNO dan kabinet, misalnya, adalah contoh yang baik bagaimana dia  telah berhasil mendorong pemerintah untuk menerapkan program Islamisasi meskipun tidak atau belum sempurna dan tetap menjadi sasaran kritik dari PAS. Tidak berlebihan juga untuk berpandangan bahwa duet Mahathir-Anwar kemudian diakui telah berhasil membawa Malaysia sebagai negara maju dan diperhitungkan secara internasional. Begitu lekat relasi Mahathir-Anwar dan sukses mereka memimpin Malaysia, tidak sedikit orang meyakini bahwa Anwar merupakan putra mahkota yang akan menggantikan atau melanjutkan posisi Mahathir sebagai PM segera setelah Mahathir menyelesaikan tugasnya.

Jalan menuju PM mulai terbuka bagi Anwar.Akan tetapi, sikap kritisismenya terhadap Mahathir terutama terkait dengan krisis moneter penghujung tahun 1990 merubah perjalanan Anwar. Bagi Anwar, skema penyelesaian terhadap krisis moneter ini perlu melibatkan IMF. Kronisme dan nepotisme telah melanda Malaysia dan transparansi terhambat sehingga keadilan dan kesejahteraan masyarakat tidak terbangun. Jika ini tidak diselesaikan secara komprehensif dengan melibatkan lembaga asing/internasional yang profesional semacam IMF, maka Malaysia akan mengalami keterpurukan permanen. Bagi Mahathir dan sejumlah tokoh UMNO pandangan dan kritik Anwar ini dianggap mengganggu stabilitas dan karena itu Anwar harus dimakzulkan dari posisinya sebagai wakil PM dan pimpinan partai, dipecat dari partai dan dipenjara dengan tuduhan korupsi dan sodomi. Jalan menuju PM bagi Anwar tertutup waktu itu.

Buah Demokratisasi

Satu langkah lagi, Anwar menjadi PM menggantikan Mahathir jika dia tidak melakukan kritik terhadap Mahathir waktu itu. Tapi takdir politik Anwar didholimi Mahathir ternyata justru membuahkan arus demokratisasi yang lebih kuat terutama sejak istri Anwar memimpin sebuah gerakan civil society sejak tahun 2000 an. Gelora reformasi sebagaimana yang terjadi di Indonesia digaungkan. Gerakan yang memperoleh dukungan dari berbagai kalangan antara lain profesional, akademisi, ilmuan dan kaum muda lainnya ini  kemudian mentransformasi menjadi partai PKR sekarang ini. Tidak dipungkiri bahwa gerakan ini telah ikut andil dalam membangkitkan dan memperkuat spirit dan kesadaran masyarakat betapa pentingnya sebuah perubahan mendasar ke depan. Perhatian gerakan ini difokuskan kepada isu-isu strategis antara lain HAM, keadilan, reformasi hukum, masyarakat multiras dan karena itu dengan cepat memperoleh dukungan luas.

Pengaruhnya secara politik juga benar-benar terasa terutama sejak Anwar dibebaskan pada tahun 2004. Gabungan partai-partai oposisi di bawah kendali Anwar berhasil merontokkan UMNO/BN pada dua kali pemilu pasca Mahathir yaitu tahun 2008 dan 2013. Kezaliman bertubi-tubi yang dilakukan rezim UMNO antara lain ditangkapnya kembali Anwar, kecurangan Pemilu, dikekangnya aspirasi mahasiswa, sikap diskriminatif dan skandal spektakuker 1MDB senilai US$ 700 juta melengkapi kebangkrutan dan kehancuran UMNO. Kehadiran dan bergabungnya Mahathir ke dalam gerakan oposisi yang dipimpin oleh Anwar ini melengkapi tanda-tanda kehancuran UMNO. Sesuai dengan kesepakatan, Mahathir akan memimpin pemerintahan transisional ini dalam waktu yang tidak lama untuk kemudian diserahkan ke Anwar memimpin Malaysia sebagai PM. Jalan Anwar menuju kursi PM mulai terbuka lebar dan Mahathir memainkan peranan penting.

Akankah Mahathir Berkhianat? Berbeda saat Mahathir memimpin selama 22 tahun, partainya dari hasil pemilu  kemarin berada di urutan ketiga setelah PKR dan DAP. Kekuatan dukungannya adalah koalisi dan karena itu, secara politik Mahathir tidak akan mungkin melakukan tindakan atau langkah-langkah yang sama sekali tidak produktif apalagi merusak spirit dan upaya rekonsiliasi dan reformasi. Salah satu langkah politik yang sangat penting dilakukan ialah memberikan jalan lebar bagi Anwar menduduki posisi PM. Di tangan Anwar reformasi kemudian dilakukan. Perjanjian dan komitmen politik rekonsiliasi dan reformasi satu persatu ditunaikan Mahathir. Dimulai dari upaya serius untuk mempercepat pembebasan Anwar melakui a Royal Pardon dari raja. Seperti yang disebutkan di paragrap awal, jadwal pembebasan Anwar adalah 8 Juni. Akan tetapi dilakukan lebih cepat atas upaya Mahathir.

Langkah berikutnya adalah penyerahan kekuasaan dari Mahathir ke Anwar yang kemungkinan besar melalui mekanisme Pemilu Sela di parlemen. Banyak kalangan yang berharap penyerahan ini dilakukan secepatnya. Akan tetapi dalam perkiraan penulis, hal ini akan dilakukan paling lama dua tahun mendatang. Jalan Anwar menuju PM akan lancar dan Mahathir adalah pemimpin yang dengan suka rela membantu meruntuhkan UMNO sekaligus memberikan jalan kemenangan bagi demokrasi sekaligus bagi Anwar. Ini adalah semacam pertaubatan politik Mahathir setelah memimpin secara otoriter selama 22 tahun dan memenjarakan Anwar sehingga terhalang memimpin Malaysia. Duet yang spektakuler Mahathir-Anwar untuk Malaysia yang lebih terbuka, berderajat dan gemilang sudah dimulai. Mereka benar-benar pembuat sejarah penting yang akan menjadi pelajaran khususnya bagi negara-negara di Asia. Ini adalah Epick yang tidak sekedar mengharukan akan tetapi juga inspiring.

Oleh: Dr. Sudarnoto Abd. Hakim, M.A (Dosen Tetap di Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Re-posting dari: http://dunia.rmol.co/read/2018/05/20/340661/Anwar-Ibrahim-Menuju-PM,-Mulus-Kah–