Ciputat- Senin pagi pukul 09.00 WIB Teater Prof. Bustami Abdul Ghani, Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) dipenuhi oleh 150 orang lebih mahasiswa dan 20-an orang dosen, (24/9/2018). Pagi itu, Salah satu fakultas tertua di UIN Jakarta ini, menggelar Seminar Internasional Sastra Arab dengan tema “Ali Ahmad Bakatsir: Sastrawan Dalam Jejak Sejarah Indonesia dan Launching Buku Audatul Firdaus”. Acara ini mendatangkan tiga narasumber yaitu, Sastrawan asal Uni Emirat Arab Dr. Abdul Hakim Abdullah Zubaidi, Direktur Menara Center Jakarta Nabiel A. Karim Hayaze, dan Dosen Bahasa dan Sastra Arab Ali Hasan Al Bahar, MA.

Ali Ahmad Bakatsir adalah sastrawan kelahiran Surabaya pada tahun 1900, kemudian menjadi warga negara Mesir sejak tahun 1951 dan wafat tahun 1969 di Mesir. Di dunia sastra Arab nama Ali bukanlah nama yang asing terutama di Mesir, Ali masuk kategori sastrawan paling berpengaruh di sana. Orang-orang Mesir mengenal Ali, karena acapkali memasukan unsur-unsur Indonesia ke dalam karya-karyanya dengan bahasa yang indah sehingga sangat digemari para pecinta sastra di sana. Salah satu karyanya yang terkenal dan kental dengan cerita perjuangan bangsa Indonesia adalah Audatul Firdaus (Kembalinya Surga Yang Hilang).

Dr. Abdul Hakim Abdullah Zubaidi dalam pemaparannya, mengatakan bahwa Ali Ahmad Bakatsir adalah sastrawan yang berkontribusi besar dalam memperkenalkan Indonesia yang saat itu belum merdeka kepada masyarakat Mesir. Jauh sebelum ditulisnya Audatul Firdaus, Ali sudah sering mengisi kolom-kolom surat kabar Mesir, sehingga telinga masyarakat di sana terbiasa dengan hal-hal yang berkaitan dengan Indonesia, misalkan alam, budaya, dengan mayoritas masyarakatnya memeluk Islam.

Nabiel A. Karim Hayaze menambahkan, dalam Audatul Firdaus Ali mendeskripsikan pemimpin-pemimpin bangsa diantaranya, Ahmad Soekarno, Muhammad Hatta, dan Sutan Sjahrir sebagai pemimpin-pemimpin muslim yang berani untuk memerdekakan Indonesia. Yang paling menonjol dari ketiganya adalah penambahan nama “Ahmad” sebagai nama depan Soekarno.

“Penambahan nama Ahmad sebagai nama depan Soekarno mampu mempengaruhi pandangan pemimpin-pemimpin liga Arab pada saat itu, sehingga pada tahun 1947 Mesir menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia”, jelas Nabiel.

Narasumber ketiga, Ali Hasan Al Bahar ikut memperkuat argumen kedua pemateri sebelumnya. Dia mengatakan kalau Ali Ahmad Bakatsir patut mendapat tempat yang sangat penting dalam sejarah sastra di Indonesia. Ketekunan dan kemahirannya dalam menggubah syair, naskah drama, novel, dan karya sastra lainnya sampai sekarang belum ada yang menandinginya.

“Ali Ahmad Bakatsir tidak bisa begitu saja dilupakan dalam perkembangan sastra di Indonesia sekaligus kemerdekaan bangsa ini. Beliau berjasa besar dalam menyiarkan keberadaan dan keadaan bangsa Indonesia yang saat itu belum merdeka. Hal yang paling membekas adalah saat Ali Ahmad Bakatsir menerjemahkan lagu Indonesia Raya ke dalam bajasa Arab sehingga orang-orang Mesir bisa menyanyikannya saat berita Indonesia merdeka sampai ke telinga mereka. Selain itu radio-radio pun banyak yang memainkan drama dari karyanya Audatul Firdaus”, papar Al Bahar.

Acara ini terasa spesial karena dihadiri oleh keluarga Ali Ahmad Bakatsir dan salah satu cucu dari adiknya. Dia menyampaikan sedikit gambaran tentang Ali yang memang kuat agama dan literasinya sehingga tidak heran kalau Ali Ahmad Bakatsir itu bisa menjadi sastrawan masyhur.

Seminar dilanjutkan dengan pertanyaan dari lima orang peserta yang semuanya tertarik dengan Ali Ahmad Bakatsir dan karya-karya yang mampu memberi dampak sosial yang positif bagi siapapun yang membacanya.

Dr. Abdul Hakim menambahkan para mahasiswa agar giat mengkaji karya-karya sastra Arab guna memperkuat bahasanya.

“Saya kira kalian butuh mengunjungi beberapa negara Arab, bekerjasama dengan negara-negara Arab, memanggil orang Arab untuk masuk ke dalam kelas, karena bahasa Arab merupakan bahasa ibu mereka, jadi mereka bisa memberikan pengetahuan yang lebih daripada yang non-Arab. Bahasa Arab bukanlah bahasa suatu kaum, melainkan bahasa bagi seluruh umat islam, setiap orang muslim harus mempelajari bahasa Arab”, pungkas Dr Abdul Hakim.

Acara ini ditutup dengan makan bersama antara pemateri, dosen-dosen, dan keluarga besar Ali Ahmad Bakatsir di ruang rapat Dekanat FAH.