KARYA-KARYA YANG BERAKHIR HUSNUL KHOTIMAH & SU’UL KHOTIMAH

الأعمال الصالحة أواخرها حسـن الخاتمة وأواخرالأعمال الطالحة سوءالخاتمة. فاللوحات الصالحة واللوحات الطالحة (فى مثل تلك الحادثة) موجودتان فى المسابقات الفنيــة.

إنالله وإناإليه راجعون……
“Semoga almarhum HUSNUL KHOTIMAH”, itu doa yang selalu tertuju untuk yang meninggal dunia, berharap almarhum mendapat pahala kebaikan karena amal-amal salehnya di dunia. Tapi jarang terdengar harapan “Semoga almarhum tidak SU’UL KHOTIMAH,” padahal itu untuk berjaga-jaga dari “akhir hidup tragis” yang ditutup dengan keburukan.
Ada pejuang yang diduga “pasti masuk surga”, seperti Riqriqah yang syahid di medan perang. Tapi Rasulullah SAW menukas: “Tidak!! Riqriqah masuk neraka!!” tanpa menjelaskan penyebabnya. Setelah mengadakan sidak, ternyata para sahabat menemukan Riqriqah mengenakan mantel perang yang diambilnya tanpa izin dari baitul mal. Tidak jauh dari itu, kepada saudagar kaya yang sedang tawaf di Ka’bah sambil meraung-raung minta ampunan, Rasulullah SAW menghardik:
تنحّٙ عنّى يافاجر، لا تحرِقني بنارك !!!
“Menyingkirlah dariku wahai pendosa, jangan kamu bakar aku dengan apimu …….!!!!!
Seandainya kamu beribadah 1000 tahun tapi dalam keadaan PELIT seperti ini, niscaya kamu akan dilemparkan ke neraka!” Sungguh mengenaskan, setragis peringatan beliau bahwa “sedekah dari hasil korupsi sama dengan mencuci dengan air kencing.” Akhir hidup yang SU’UL KHOTIMAH, seperti “air susu sebelanga yang dibalas setitik air tuba”.
Begitulah, amal-amal baik, agaknya, harus full baiknya. Hanya karena ternoda sedikit keburukan, runtuhlah tangga menuju surga. E, rupanya perkara seperti ini ada juga di Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di seluruh daerah Indonesi. Ada pelomba yang berakhir HUSNUL KHOTIMAH alias berhasil jadi juara I. Ada juga yang “tidak beruntung jadi juara” karena mengakhiri karyanya dengan SU’UL KHOTIMAH.
Dalam lomba KALIGRAFI (مسابقة خط القرآن) di MTQ, kejuaraan ditentukan oleh full MULUSnya karya, yaitu benar & indah serta menguasai pedoman & medan musabaqah. TANPA NODA, dan kalau pun ada kesalahan, kesalahannya lebih minim daripada yang lain. Karya unggulan tidak memberi kesempatan Dewan Hakim menemukan celah-celah yang menjadi alasan untuk menyingkirkannya ke papan bawah atau menguburnya ke kubangan sepi dari sebutan nominasi. Benar-benar mulus, saleh, layak juara I.
Yang kurang diperhatikan adalah kelalaian yang menyebabkan karya berakhir SU’UL KHOTIMAH. Cantik dan menarik, tapi “mengapa tidak juara?” Ternyata ada NODA kesalahan seperti:
• Ketinggalan KATA (spt عذاب) pada ولهم عذاب أليم .
• Kelebihan KATA (spt كفروا tertulis 2 x) pada ان الذين كفرواسواء عليهم .
• Menulis kata TERBALIK (spt علموا) pada وعملواالصلحت .
• Kelebihan/kekurangan HURUF atau kelebihan/kekurangan GIGInya (spt الرحم , الراحمن) pada هوالرحمن الرحيم .
• Kelebihan/kekurangan/keliru memosisikan TITIK (spt نسليموا , ثسـلبما) pada ويســلمواتسلــيما .
• Menulis teks ayat dengan khat Naskhi yang seharusnya Farisi pada final Hiasan Mushaf.
• Tidak menaati pedoman rasam Usmani (spt menulis الكتاب atau الصالحات) pada ذلك الكتب لا ريب فيه dan ان الذين امنواوعملواالصلحت .
• Tidak mengikuti teks maqra’ spt menulis سورة التطفيف yang seharusnya: سورة المطففين .
• Memanjangkan goresan (lbh dr 2 ttk) untuk kata Rahim/ رٙحـِــــيْم dalam khat Riq’ah sehingga terbaca Rohsim/ رٙحٔسِـيْم .
• KELIRU memahami, dengan melukis ayat yang kurang relevan dengan background lukisannya pada Kaligrafi Kontemporer Figural (spt ayat ولله ما فى السموت
ومافى الارض
tanpa terlihat figur langit dan buminya).
Diperbandingkan dengan karya-karya tanpa NODA, karya-karya berNODA di atas pastilah berakhir SU’UL KHOTIMAH.
Contoh-contoh keKHILAFan dan keTELEDORan seperti itu selalu terjadi dan berulang, bahkan pada MTQ Tk Provinsi Papua Barat, DKI Jakarta, Jawa Barat, Banten, Riau yang barusan lewat. Di tengah persaingan yang semakin ketat, hanya kerja kredibel yang strategis dan penuh keHATI-HATIan obatnya.

Oleh: Didin SirojuddinAR•Lemka